Movie Review: Inside Out

inside_out_2015_movie-wide

An Emotion Rollercoaster

Genre: Fantasi, Animasi, Petualang, Komedi

Pengisi Suara: Amy Poehler, Phyllis Smith, Richard Kind, Bill Hader, Mindy Kaling, Kaitlyn Dias, Diane Lane

Sutradara: Pete Docter

Produksi: Walt Disney Pictures, Pixar Animation Studios

Do you ever look at someone and wonder what is going on inside their head?

Pixar selalu punya tempat bagi para pecinta film animasi sejak dibeli oleh Disney pada tahun 2006. Namun beberapa tahun setelahnya, barulah studio film ini mengeluarkan film-film yang cukup menghibur dan memorable. Sebut saja dan Up (2009) dan Monster Inc (2012) yang sempat menjadi gebrakan dari industri film animasi saat itu. Tahun ini Inside Out menjadi sajian yang melebihi ekspektasi penonton. Premisnya sederhana, berkisah tentang seorang gadis remaja berumur 11 tahun, Riley (Kaitlyn Dias) dan perasaan-perasaan yang ada di dalam pikirannya.

Walau sekilas terlihat sebagai sebuah ide yang inovatif, siapa sangka film-film dengan tema serupa sudah beberapa kali diproduksi. Sebut saja Fantastic Voyage, Innerspace, dan Poison Berry In My Brain. Publik Jepang pun sempat menuding aksi plagiarism yang dilakukan Pixar terhadap serial manga mereka, Poison Berry in My Brain (Nonai Poison Berry) yang juga diproduksi filmnya pada tahun ini. Well, diluar dari keorisinilan yang ada di film ini, premisnya tetaplah menarik, tentang apa yang terjadi sebenarnya di dalam kepala seorang manusia.

Inside Out bermula pada narasi kelahiran seorang gadis cilik bernama Riley, di Minnesota. Sesaat setelah Riley lahir, hadirlah Joy (Amy Poehler), yang sosoknya mengingatkan saya pada si mata besar Tinkerbell. Ia memiliki tubuh yang bersinar, dan semangat yang meluap-luap. Ia pun menjadi emosi pertama yang dimiliki Riley. Seiring dengan tumbuh kembang Riley, hadirlah emosi-emosi lainnya, Sadness (Phyllis Smith), Fear (Bill Hader), Anger (Lewis Black), dan Disgust (Mindy Kaling). Kehadiran emosi-emosi ini pun memengaruhi diri Riley. Dia adalah anak gadis yang ceria.

Namun semua mulai berubah saat Riley menginjak usia 11 tahun dan harus pindah ke San Fransisco, karena pekerjaan ayahnya. Di tempat yang baru, Riley kesulitan beradaptasi. Ia harus bertemu teman baru, lingkungan baru, dan suasana yang dan berbeda dari apa yang ia dapat di rumahnya dulu. Hubungannya dengan kedua orang tuanya pun berangsur merenggang. Hal ini diperparah saat Sadness memegang bola memori. Bola ini kemudian menjadi biru dan terisi dengan kenangan-kenangan yang menyedihkan. Di dalam kepalanya tersimpan berbagai macam memori yang kemudian membentuk Family Island, Goofball Island, Honesty Island, dan Friendship Island. Saat pulau-pulau ini mulai runtuh, saat itulah kepanikan mulai terjadi. Bola-bola mulai berserakan dan tanpa sengaja Joy dan Sadness tertarik ke dalam Headquarter, tempat dimana seluruh memori Riley disimpan. Mereka lalu bertemu dengan Bing Bong (Richard Kind) teman khayalan Riley saat ia masih balita. Mereka pun menyusuri seluruh pikiran Riley untuk memperbaiki kekacauan yang ada. Sementara itu, Fear, Anger, dan Disgust yang tinggal di dalam pikiran Riley mulai kewalahan mengatur emosi Riley. Satu persatu pulau kenangan Riley mulai runtuh.

Krisis remaja yang kurang mampu beradaptasi, kesalahan komunikasi yang terjadi antara anak dan orangtua, dan emosi yang masih belum stabil menjadi sajian inti dalam film ini. Meskipun begitu, daripada menyebutnya sebagai film anak-anak dan remaja. Secara pribadi, film ini lebih layak ditujukan kepada para orang tua yang memiliki anak-anak kecil. Bahwa tiap anak pasti akan memiliki masa dimana ia ingin didengar. Sebuah masa ketika emosi tidak mampu dikendalikan dan dimengerti bahkan oleh si pemilik tubuh sendiri. Kompleksitas yang dimiliki film ini juga bukan hal mudah untuk dimengerti seorang anak kecil, bahwa ada makhluk-makhluk mini di dalam kepala mereka.

Kredit akhir film ini yang menyebut, “This is dedicated to our kids, please don’t grow up, ever,” nampaknya memang menjadi akhir kesimpulan yang pasti. Sebuah film yang ditujukan bagi para orang tua yang sering mengalami kesalahan komunikasi dalam menanggapi anak-anaknya yang sedang tumbuh. Secara keseluruhan, film ini laksana sebuah rollercoaster emosi, yang membawa kita pada tiap emosi yang ada pada dalam diri. Bagaimana Sadness mampu membuat kesal, dan Anger yang malah membuat tampilan lucu dari sebuah amarah. Film ini dibungkus dengan imajinasi tinggi dan pengolahan visual yang mengesankan, membuat Inside Out menjadi film yang mengagumkan dan brilian.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s