Pernah enggak sih kalian punya banyak sekali ide di kepala untuk nulis sesuatu, tapi bingung untuk menuangkannya dalam tulisan? Bukan enggak ada ide, idenya banyak, menyampaikannya yang bingung mau bagaimana. Semacam surplus ide, tapi defisit aktualisasi.
Beberapa waktu lalu, aku dan beberapa kawan kuliah berkesempatan untuk ambil bagian di Mercu Buana International Conference of Communication Science (MICoCS) di Batam. Kami mengirimkan tulisan yang kemudian akan dipresentasikan waktu kelas panelis. Rasanya? Luar biasa dong. Dari semua presenter, bisa dibilang kamilah yang paling muda. Soalnya peserta lainnya udah pada punya gelar Dr., Profesor, dan mahasiswa S3, bahkan ada peserta yang buku metodologi penelitiannya selalu jadi rujukan mahasiswa, dan ada juga yang udah jadi Assesor. Kami? Oh jelas menghadapi semuanya dengan tertawa karir.

Pengalaman selama kegiatan disana rasanya seru sekali kalau bisa aku sampaikan dalam tulisan, biar bisa dibaca orang lain. Tapi lagi-lagi, aku bingung harus mulai darimana.
Apakah dari proses gimana awalnya kami bisa ambil bagian dalam acara, atau justru cerita tentang tempat-tempat yang kami datangi, dan kegiatan lainnya? Jadi inget, waktu di Batam, kami sempat melanglang buana sampai pulau Galang. Awalnya karena pengen tau jembatan Barelang yang sampai Barelang 6 itu, sebagus apa. Karena ternyata ga sesuai ekspektasi, jadilah driver kami selama disana, si abang paling Batam memutuskan untuk belok ke tempat yang dulunya jadi camp pengungsian orang Vietnam zaman perang dulu.
Masuk ke areanya disambut sama pepohonan yang selain segar dipandang, juga agak bikin merinding. Iya, semagis itu rasanya. Mobil kami diparkirkan di depan museum. Bang Mujek dan TB yang sangat mencintai hal-hal berbau sejarah, kemudian masuk dan keliling museum. Sisanya? Nunggu di mobil.

Kelar dari lokasi ex Camp Vietnam, kami gerak cari pantai untuk makan siang. Ada banyak pantai yang bisa dikunjungi sebenarnya, sangking banyaknya, kami bingung. Akhirnya kami belok ke pantai New Melur, yang kami datangi di waktu yang kurang tepat, soalnya lagi surut. Jadi bibir pantainya jadi lebih jauh, walaupun pasirnya memang bagus dan ada banyak fasilitas yang ditawarkan. Serasa pantai sendiri, karena kami datang di hari kerja, jadi pengunjungnya enggak ramai.

Kelar dari pantai, kami seliweran belanja beberapa barang yang sebenernya enggak butuh-butuh amat, tapi mumpung lagi disini, ya masa ga dibeli. Konsumtif sekali bukan.
Selain kegiatan seminar di Batam, bulan ini aku mulai melakukan beberapa kegiatan individual yang udah lama enggak aku lakukan, berenang, bersepeda, dan nonton film sendiri.
Film yang kupilih untuk kunikmati sendiri adalah Inside Out 2, soalnya mau nonton Ipar adalah Maut kok males emosi sendiri.
Inside Out 2 menurutku secara garis besar masih sama dengan film pertamanya, bedanya, our Riley is already a teenager. Kondisi remaja ini juga yang akhirnya memunculkan emosi-emosi baru, Anxiety, Envy, Ennui, Embarrasment, dan Nostalgia. Dari semua emosi baru yang muncul, aku malah suka sama si Ennui, she is so French. Waktu aku search siapa dibalik Ennui, yap!!! Ternyata Adele Exarchopolous, pantes suaranya enggak asing.

Pengalaman nonton Inside Out 2 ini nyatanya bikin aku sedih, terutama waktu Riley sedang Anxiety attack. Di dalam dirinya, si Anxiety juga lagi kebingungan. Iya, ternyata itu yang terjadi waktu orang ngerasa cemas. Aku appreciate sama gimana film ini mampu menggambarkan gimana tekanan-tekanan dalam diri seseorang bikin ragam emosi muncul.
Seorang remaja yang mencoba menemukan jati dirinya lagi, gimana dia berusaha untuk mendapat pengakuan dari lingkungannya, dan gimana friendship bisa membantu perkembangan kepribadian seseorang. Yup, deliver yang bagus dari Inside Out 2 menurutku.
Walaupun filmnya ringan dan cocok ditonton sama remaja, there’s no such a spiritual message yang bisa aku lihat. So, beneran seringan itu untuk dinikmati.
Oiya, dari semua emosi yang ada di dalam film ini, mana sih yang menurut kalian paling menggambarkan masa remaja kalian dulu?
Tuhkan, ide-ide nulis itu hilang timbul, menunggu untuk diejawantahkan dalam kata-kata. Tapi kadang aku mikir, bukan idenya yang kebanyakan, niatnya aja yang kurang, jadi jangan berlindung dari writer’s block, teguhkan niatnya untuk jadi produktif biar liburan ini dihabiskan dengan cara yang menyenangkan.