Akhirnya Nonton Konser

on

Pertama kali dengar kabar kalau Sheila on 7 bakal konser di Medan tahun 2023, aku langsung yakinin dalam hati pokoknya harus nonton. Bukan karena fanatik, tapi Sheila on 7 punya tempat tersendiri dalam perjalanan hidupku yang memang banyak lika liku kadang lukanya ini. Ditunggu-tunggu, ternyata konser yang diharap tahun lalu enggak kunjung kejadian.

Akhirnya info konser baru muncul di medio tahun 2024, which is nice karena aku lagi cuti kerja, dan weekend enggak ada kuliah. Jadilah janjian bertiga bareng Kak Mirna dan Muzda, mereka ini kawan kerjaku waktu masih di hotel dulu. Iyes, aku pernah kerja di hotel, enggak lama, cuma dua tahun. Dua tahun yang penuh drama dan cerita yang ada ajaaa kok kejadiannya.

Udah lama enggak nonton konser sebenarnya, Sheila on 7 ini jadi musisi yang konsernya aku tonton setelah hitungan tahunan. Dulu, nonton konser jadi kerjaan karena aku harus liputan konser untuk media tempatku kerja. Imbasnya, nonton konser bukan lagi hal yang istimewa buatku. Tapi Sheila on 7 adalah pengecualian dari itu semua.

Lahir di awal 1991, aku tumbuh dan menikmati masa remaja dengan musik-musik khas band Indonesia yang sering seliweran di MTV Ampuh. Selain So7, aku juga cukup sering dengerin Ada Band waktu masih digawangi Baim di vocal, Dewa 19 waktu masih bareng Ari Lasso, Base Jam, Wayang, Powerslave, Lingua, dan banyak lagi yang lagu-lagunya masih aduhai didengerin sampai sekarang. Sheila on 7 yang albumnya Kisah Klasik adalah kaset tape pertama yang kami beli pakai uang sendiri dari hasil THR. Waktu itu, kaset dengan cover warna orange itu dilengkapi dengan lirik lengkap dari semua lagu yang ada. Sebuah memori yang aku suka ingat walau sudah enggak semuda dulu.

Nonton konser Duta cs pun jadi hal yang paling aku tunggu tahun ini. Setelah war tiket, waktu itu dihandle sama kak Mirna karena aku lagi ujian, kami pun langsung booking kamar hotel untuk stay setelah nonton. Dengan pertimbangan jarak yang enggak terlalu jauh, harga yang affordable, dan makanan yang not bad, serta kolam renang yang luas, kami memutuskan untuk menginap di Hotel Danau Toba. Booking hotel 3 bulan sebelum tanggal menginap nampaknya jadi cobaan tersendiri untuk kami. Kamar yang kami booking di bangunan apartemen nyatanya enggak lagi available, alasannya sudah penuh, padahal sudah booking dan dibayar jauh hari. Jadilah kami dipindah ke bangunan hotel setelah menunggu sekitar sejam. Not a big deal actually, tapi harusnya ada regulasi yang jelas soal perbookingan ini, terutama kami yang booking dari lama. Tanggal konser So7 di Medan adalah minggu dimana PON XXI Sumut-Aceh berlangsung. Jadi enggak heran, rate hotel juga tinggi di minggu itu, plus, macet dimana-mana.

Karena aku ada kegiatan dari kantor di hari Jumat dan menginap, jadilah baru gerak ke Medan pas tengah hari Sabtu. Sementara Kak Mirna dan Muzda masih harus kerja di hari Sabtunya. “Kita ada yang mau dikejar ga? Santai-santai aja lah ya,” Itulah anggapan kami waktu itu. Jadinya kami enggak terburu-buru ke venue, malah sampai sana selesai maghrib. Sebuah keputusan yang kurang tepat nampaknya, karena pencahayaan menuju venue cukup minim.

Untuk orang yang enggak suka ribet dan meribetkan segala sesuatu dan cenderung pasrah, kami cuma mengikuti instruksi yang ada di area venue, ngikutin body check, ticketing check, enggak grusah grusuh foto-foto, ya go with the flow aja jadinya. Kami ambil tiket di Festival A1 yang emang lokasinya agak ke depan di sebelah kiri. Waktu sampe lokasi, banyak kali orang-orang yang udah selonjoran di bawah. Kupikir, dari jam berapa lah orang ini yaaa.

Konser dimulai sekitar jam 8, dengan opening act yang memang luar biasa. Sayangnya, untuk orang yang berukuran mungil, memang agak sulit untuk ngelihat langsung ke arah stage, walaupun bisa diusahakan. Empat layar besar di depan yang fokus ke tiap anggota So7 bikin aku bisa menikmati muka-muka para pakde dari Jogja ini.

Lagu Film Favorit jadi pembuka di konser ini yang cukup bikin teriak-teriak. Ya walaupun semua lagunya bisa bikin sing along sih yaaa. Dilanjut sama lagu Bila Kau Tak Disampingku, J.A.P, Radio, Seberapa Pantas, dan Itu Aku, cukup bikin sebotol air mineral yang kupegang habis dan tenaga mulai turun. Rasanya kayak muter kaset di jaman kecil dulu, bedanya sekarang, si So7 nya langsung main di depan mata. Iya, sebahagia itu memang rasanya.

Dua jam lebih berdiri, lompat-lompat, nyanyi, ketawa-ketawa, cukup bikin staminaku aur-auran, tapi aku bahagia. Nonton konser setelah sekian lama menjauhkan diri dari kerumunan manusia memang jadi tantangan tersendiri, tapi terbayar dengan kepuasan sama stage act yang mereka tampilkan.

Sheila on 7 memang punya tempatnya tersendiri, walaupun capek dan pulang kehujanan, tapi semua rasanya layak.

2 Comments Add yours

  1. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    Memang seseru itu nonton konser yang ditunggu-tunggu, kalo denger lantunan SO7 kayak mengulang lembaran masa kecil dulu.

    Suka

  2. avatar Suci Suci berkata:

    Seru yaa liat story temen2 pada saat itu all about SO7.

    Aku ada trauma tersendiri nonton konser outdor / berdiri. Jadi meski sebuah band sebesar SO7, aku skip nonton.

    Kalo tadi indor / duduk pasti ikut war, hehe

    Suka

Tinggalkan komentar