Movie Review The Revenant

A Painful, Raw, And Relentless Visionary

MV5BMjU4NDExNDM1NF5BMl5BanBnXkFtZTgwMDIyMTgxNzE@._V1_UY1200_CR90,0,630,1200_AL_

It’s all about surviving in the nature

Film ini membawa Leonardo DiCaprio sebagai Best Actor dan Alejandro Innaritu sebagai Best Director pada ajang Golden Globe Award tahun ini. Tak tanggung, The Revenant juga meraih penghargaan sebagai Best Motion Picture-Drama di ajang yang sama. Plus, Leo juga menyabet piala Oscar untuk kategori Best Actor.  Jadi, jelas, kualitas film ini memang tak diragukan lagi. Namun, bukan berarti semua orang bisa menikmati film ini dengan tenang. Terutama bagi Anda yang benci dengan adegan berdarah dan pembunuhan, film ini tidak saya rekomendasikan untuk ditonton.

Leonardo endurance test. Barangkali inilah yang bisa disimpulkan untuk menjadi inti utama dari The Revenant yang mengambil set pada tahun 1823. Ialah Hugh Glass (DiCaprio) yang bersama-sama dengan rombongannya berburu beruang untuk mengambil kulit, hingga kemudian menjualnya. Pimpinan tim, Captain Andrew Henry (Domnhall Gleeson), John Fitzgerald (Tom Hardy), Bridger (Will Poulter) dan seluruh anggota lain berjumlah tiga puluh orang berangkat. Hingga kemudian rombongan mereka diserang oleh suku Indian Arikara.

Disinilah penonton akan disajikan begitu banyak adegan berdarah, yang menurut saya, membuat film ini terlihat begitu nyata. Ditambah dengan bagaimana orang-orang ini berjalan, bernapas, dan bertahan dari dinginnya cuaca, begitu alami. Seolah mereka berada di tempat yang paling mematikan. Rombongan yang tersisa kemudian menuju hutan. Di hutan inilah rombongan mulai berpencar. Di sini pula, menjadi titik klimaks dari film saat Glass diserang oleh seekor beruang. Beberapa laman sempat menyebutkan bahwa Glass diperkosa oleh beruang tersebut. Namun jika disaksikan secara seksama induk beruang itu hanya ingin melindungi anaknya, jadi, tidak ada rapping scene di dalam film ini, penonton.

Beruang yang menyerang dan mencakar Glass, cukup untuk membuatnya sekarat. Rombongan pun akhirnya harus membuat keputusan sulit dengan meninggalkan Glass, ditemani oleh Fitzerald, Bridger, dan anaknya, Hawk (Forrest Goodluck). Namun, Fitzerald memiliki pemikiran lain untuk mengakhiri nyawa Glass. Hawk yang menolak dan menyerang Fitz kemudian ditikam, didepan ayahnya. Sementara Bridger yang tak tau Hawk dibunuh pun akhirnya menuruti perintah Fitz untuk meninggalkan Glass sendiri. Glass yang ditinggal dan sekarat akhirnya dengan sisa-sisa kekuatan, dan mungkin, dendam, kemudian bangkit. Di perjalanan, ia bertemu dengan seorang lelaki suku Pawnee yang kemudian menolongnya menyembuhkan luka-lukanya.

Innaritu nampaknya memang menyukai hal-hal berbau perjuangan hidup, dan narasi yang membuat orang yang menontonnya seakan diajak untuk merasakannya. Visualisasi yang manurut saya, begitu luar biasa, hingga wajar jika film ini menempati daftar film terbaik. Berbagai adegan yang membuat dahi berkernyit hingga menggelengkan kepala, menunjukkan seorang manusia mampu bertahan hidup hingga sebegitunya. Tapi adegan favorit sayam mungkin juga yang paling “sakit” adalah ketika Glass yang kedinginan setelah terjatuh ke jurang bersama kudanya. Ia lalu membedah kuda tersebut, mengeluarkan isinya, lalu menggunakan badan kuda tersebut sebagai selimut. Well, it looks like hell out there. The Revenant memberikan isi yang lebih luas, tentang sebuah keagungan, kepercayaan, masalah spiritual seperti balas dendam, dan kemudian lahir kembali menjadi pribadi yang baru. Tapi untuk lebih sederhananya, The Revenant mengajarkan tentang satu hal, jangan pernah menyerah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s