Jejak Digital, Sebuah Cerminan Diri

Halo, Reader!

Pernah enggak sih kalian kepikiran kalau apapun yang kita lakukan di dunia maya, akan menjadi jejak yang bakalan terus ada disitu? Well, somehow, one day, akan berpengaruh ke diri dan karir kita ke depannya.

Jadi, berawal dari browsing sana-sini untuk cari isu-isu kontemporer terkini, dan fenomena post-truth untuk tugas kuliah, aku sampai buka TikTok dan scrolling segala macam komen dari hal-hal yang sedang tren. Mulai dari perkara child free, pilihan presiden, perselingkuhan artis, isu agama, banyak lah pokoknya. Which is, cukup shocking karena ternyata banyak orang yang dengan mudahnya berkomentar jahat, mulai dari makian, sampai komen yang bersifat sara. Sampai ada komen lain yang bilang begini, “Hati-hati jejak digital, guys”.

Aku jadi ingat waktu pertama kali masuk ke instansi tempatku kerja sekarang, atasanku bilang dia udah cek medsosku, berbekal dari data yang diterima terkait pegawai baru. Padahal, kami belum bertemu muka. Kak Iedya, atasanku di kantor bilang, dia udah cek Facebook dan Instagramku, yang memang, enggak aku private. “Waktu nerima info siapa yang masuk kesini, kakak langsung cek di medsos, ohhh ini orangnya, nih lantam nih,” gitu kata Kak Iedya waktu itu. Dia bilang, dia juga ngecek hal-hal yang secara publik aku bagikan, mulai dari foto, video, link berita, dll.

Little things she doesn’t know, aku udah ‘membersihkan’ sedikit media sosialku dari hal-hal yang sebaiknya tidak diakses oleh orang lain, salah satunya adalah status-status dan foto-foto alay zaman masih belia dulu. Walaupun alay adalah fase hidup dan sebuah keniscayaan, tapi menurutku, levelku waktu itu bukan hal yang menyenangkan kalau kealayan itu dipakai untuk hal-hal yang bakal bikin malu aku ke depannya. Di kantor, kami juga sering saling mengingatkan untuk lebih hati-hati dan bijak bermedia sosial, sebab, jejak digital bisa jadi boomerang untuk kedepannya.

So let me tell you about digital footprints alias jejak digital.

Though the concept of social identity is not new, social networking and new media technologies have extended our understanding of social identities. Furthermore, writing plays a significant role in the various online spaces we use to create our individualized digital footprints, that is, the digital trail of data that we leave behind when interacting in or with online technologies Whether we write on Facebook to share with friends or families or on LinkedIn to connect with other professionals, the act of public writing should be executed with thought and critical consideration.

Cassandra Branham – Embry-Riddle Aeronautical University

Kira-kira artinya begini: Meskipun konsep identitas sosial bukanlah hal baru, jejaring sosial dan teknologi media baru telah memperluas pemahaman kita tentang identitas sosial. Menulis (di media sosial) memainkan peran yang siginifikan di berbagai ruang online yang kita gunakan untuk menciptkan jejak digital tersendiri. Jejak digital merupakan jejak data yang kita tinggalkan saat berinteraksi secara online menggunakan teknologi. Diantaranya saat kita menulis di Facebook kemudian membagikannya kepada teman ataupun keluarga, atau saling terhubung di LinkedIn, itu sebabnya menulis di ruang publik haruslah dipikirkan dengan baik dan penuh pertimbangan kritis.

Sederhananya, jejak digital atau digital footprints adalah rekam kegiatan atau aktivitas yang dilakukan pengguna internet. Terus apa aja sih yang termasuk jejak digital?

Nah, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menjelaskan, banyak bentuk jejak digital yang kita lakukan dalam rutinitas berselancar di internet. Misalnya, riwayat pencarian di mesin pencari (browser), foto atau video yang kita unggah di akun medsos, tagging atau tanda dari foto atau video orang lain, lokasi atau tempat-tempat yang kita kunjungi, komentar yang pernah kita tinggalkan di suatu postingan di medsos, sampai jejak online banking. Itu semua adalah bentuk jejak digital yang kita tinggalkan, yang sayangnya kadang ada yang enggak sadar kalau informasi-informasi itu akan tersimpan terus di internet.

Kenapa sih jejak digital itu penting? Menurutku sederhana aja, karena sekarang kita berada di era digital yang apa-apa serba online. Yaaa walaupun untuk beberapa kebutuhan administratif masih harus foto copy berkas ini itu sih, terus nunggunya lamaa… eh malah curhat

Oke, back to the topic.

Kalau dulu ada peribahasa “Mulutmu Harimaumu”, di zaman digital sekarang udah bergeser jadi “Jarimu Harimaumu”. Yup, karena apapun yang kita share secara online, sekali klik langsung tersebar bebas, dan bisa dilihat oleh siapapun. Percaya atau enggak, segala yang kita share, baik ide ataupun komentar di media sosial, mencerminkan diri kita sendiri. Jadi yaaa enggak perlu pendekatan antar personal untuk kenal sifat asli seseorang. Akses aja medsosnya dan perhatikan bagaimana orang itu berinteraksi.

Hal paling signifikan tapi kadang dianggap remeh adalah, jejak digital di media sosial bisa dijadikan identifikasi instansi bagi calon pelamar kerja, calon CPNS, calon pelamar beasiswa, bahkan promosi jabatan sebagai bahan pertimbangan. Jadi, simplenya, media sosial juga bisa jadi alat mencari pekerjaan, atau malah, jadi bikin susah dapat pekerjaan.

Di Twitter, yang sekarang logonya berubah jadi X, sering kita lihat threads atau cuitan yang dibuat oleh orang-orang dari sebuah perusahaan, salah satunya adalah tips and tricks biar dinotice saat wawancara kerja, bagaimana bikin cv yang menarik, dll. Nah, hal yang perlu diketahui adalah, HRD zaman sekarang juga punya kebiasaan untuk digital check media sosial kandidat yang lagi melamar kerja. Ini sebagai langkah preventif supaya kandidat yang terjaring enggak akan merusak atau malah membahayakan reputasi perusahaan. Jejak digital yang baik, profesional, dan mencerminkan kemampuan diri kita, itulah yang akan dilihat dan jadi penilaian positif perusahaan tadi.

Terus gimana dong?

Yok bisa yok, mulai sekarang lebih bijak dalam bermedia sosial. Bukannya jadi lebih terkungkung dan engga bebas. Tapi lebih ke bebas yang teratur. Karena dampaknya kan ke diri sendiri juga tuh. Nah, melansir dari laman indonesiabaik.id, ada lho beberapa cara yang bisa kamu terapkan untuk mengelola media sosial dengan lebih baik.

Artikel asli bisa dilihat disini yaaa

Guys, jejak digital kita adalah cerminan dari diri kita di dunia maya. Apa yang kita posting, bagikan, atau komentari bisa memberikan gambaran tentang karakter, sikap, dan nilai-nilai kita ke orang lain. Jadi, kalau kita berperilaku dengan bijak dan positif, ini dapat membantu membangun reputasi online yang baik, yang kedepannya, bisa menguntungkan karir kita dan branding diri kita juga. Oiya, bedakan juga ya sikap kritis dengan anarkis. Boleh kok mengkritiki kebijakan yang kita anggap kurang pas, tapi sampaikan dengan bijak juga, ya.

Emangnya jejak digitalmu udah bagus kali, Dan? Ya enggak dooong. Sebagai manusia yang enggak terlepas dari kesalahan, aku juga punya jejak digital yang beberapa pengin kali aku ulang biar enggak aku lakuin. Tapi yaa mau gimana, once go online, it can’t go back.
Tapi walaupun gitu, ada beberapa tagging dari orang yang aku biarkan sampai sekarang, karena apa? Karena aku bangga.

Ini adalah foto tagging dari salah satu kawan di acara pameran foto jurnalistik tahun 2012. Nah, ini tuh pertama kalinya aku ikut pameran foto jurnalistik, dan aku bangga, walaupun fotonya sesimpel foto Kuda Lumping.
Nah, ini foto perpisahan setelah magang di Media Indonesia, Jakarta di tahun 2013. Bisa dibilang, magang inilah yang jadi pengalamanku untuk akhirnya memilih karir di dunia jurnalistik dan kerja di majalah lifestyle. Maafkan gaya jilbabku dan poseku yang mangap kali itu yaaa
Ngeliat muka sendiri nongol di koran lokal dan membahas hal yang lagi aku tekuni, ya jelas bangga dong ya. Waktu itu, sekitar tahun 2017, aku masih aktif-aktifnya di dunia foto kuliner, dan ada kenalan di koran itu yang perlu beberapa narsum untuk di lamannya. Jadi deeeh.

So guys, suka atau tidak, kemajuan teknologi juga harus dibarengi dengan kecakapan kita menyikapinya. Zaman yang modern harus diikuti dengan pola pikir dan wawasan yang berkembang pula. Jangan sampai, kemajuan teknologi justru jadi penghambat kita untuk berkembang. Manfaatkan teknologinya sebaik mungkin, jalin relasi dengan baik, dan ingat, jejak digital itu kejam, kawan!

5 Comments Add yours

  1. avatar Mujek Mujek berkata:

    apotik tutup juga ni anak

    Suka

    1. avatar danaanjani danaanjani berkata:

      Eaaaa… cari obat apa abang? Migren

      Suka

  2. avatar gunawandtruzz gunawandtruzz berkata:

    Jejak digital is real, jadi kudu hati2 mau ngetik atau post apapun.. Make sure beberapa tahun kedepan gk berujung penyesalan. Hihi

    Suka

  3. avatar imelda imelda berkata:

    Real bgt sih jejak digital ini. Jempolmu harimaumu lebih mengerikan dari mulutmu harimaumu.

    Suka

  4. avatar Iyah Iyah berkata:

    Sekarang banyak yang abai dengan jejak digital dan melakukan apa aja supaya viral 😦 thanks remindernya kak!

    Suka

Tinggalkan Balasan ke gunawandtruzz Batalkan balasan