The Clicking Monkey, Si Netizen Monyet

Pernah enggak sih kalian lihat berita cuma judulnya aja, terus buru-buru share ke orang lain atau medsos kalian tanpa baca isinya dulu? Yes, click bait itu jahat, tapi yang lebih jahat adalah orang yang ogah baca berita secara menyeluruh, terus kemakan sama isu yang cuma ditampilin di judul doang. Perilaku ini bahkan udah dianggap sebagai hal yang biasa. Kayak “Oooh apa nih kok judulnya menarik, yaudah share aja ah,”
Atau, malah kebiasaan ini udah sering kalian lihat di lingkungan kalian? Ada keluarga yang hobi share berita dengan judul click bait, tapi ditanya isinya malah enggak paham. Yaudah main share aja gitu.

Waktu baca-baca jurnal tentang disinformasi dan perkembangan dunia digital, aku nemu beberapa bacaan menarik yang membahas tentang kebiasaan-kebiasaan manusia yang ikut berubah seiring dengan perkembangan teknologi. Sesimpel bisa akses internet dengan mudah, artinya, lautan informasi jadi hal yang bisa kita nikmati day by day. Tapi malah kemudahan itu justru bisa menciptakan perilaku-perilaku baru yang menarik untuk dibahas.

Pertanyaannya, apakah kita sebagai user teknologi dan penikmati informasi bisa menanggapi dan siap dengan kemajuan yang ada?

Orang-orang yang melek informasi, mengikuti perkembangan teknologi, suka berdiskusi dan membaca pasti punya pemikiran yang berbeda dengan orang yang menutup pikirannya dari informasi yang mungkin berbeda dari apa yang ia yakini. People tend to believe what they like and want. Alias, orang itu ya percayanya sama apa yang mereka mau atau suka aja. Kalau enggak suka, ya ogah percaya aja gitu bawaannya.

One day, aku baca jurnal yang bahas kebiasaan orang untuk klik share berita dulu, lalu verifikasi kemudian. Yup, memang semenarik itu kelakuan manusia di zaman yang modern ini. Klik saja dulu, verifikasi urusan belakangan barangkali menjadi pemikiran yang muncul di kepala pengguna media sosial saat melihat suatu topik dan isu yang sedang tren di masyarakat. Inilah yang kemudian disebut dengan istilah clicking monkey. Seakan tidak mau ketinggalan zaman, pengguna media sosial akan mencoba berpartisipasi pada pembicaraan tersebut dengan mengklik suka, berkomentar, dan share. Padahal, nyatanya ia tidak memiliki pemahaman yang cukup terhadap isu tersebut dan enggan untuk melakukan verifikasi terhadap kebenaran berita yang ada. Tujuannya apa? ya biar dianggap ngikutin trend aja gitu.

The Clicking Monkey. Selucu itu julukannya, tapi imbasnya enggak lucu-lucu amat sih.

Pernah enggak sih kalian kesal dan marah sama temen di medsos yang sharing foto-foto kecelakaan tanpa sensor, atau share berita bohong tanpa mikir apa akibatnya kalau yang baca berita itu bukan orang yang aware sama hoaks? Hihhh kesel Megan Fox jadinya.

The clicking monkey, si netizen monyet yang hobi share berita tanpa verifikasi dan cuma liat judul.
Source: bikin sendiri di Canva

Udah bukan rahasia lagi kalau tahun 2024 itu tahun yang “panas”, terutama untuk kita yang rajin browsing berita di internet, komunikasi via digital tools, dan ya memang secara rutin bersinggungan terus sama media digital. Sebut aja waktu masa kampanye jelang pemilu lalu. Hoaks, ujaran kebencian, sampe perang di media sosial itu jadi makanan sehari-hari yang kadang mengundang geli, atau malah bikin darah tinggi. Nah, itu kalau bahas pemilu. Belum lagi kalau isu yang menyinggung agama, ras, gender, bahkan LGBT, kita harus mempersiapkan diri untuk enggak mudah terpancing emosi, terutama saat baca tab komentar.

Menurut jurnal yang pernah kubaca, orang-orang bahkan memilih tontonan di tv atau saluran internet yang sesuai sama tendensi politiknya. Si A yang pendukung calon B bakal nonton tv yang adalah afiliasi dari pilihan politiknya. Nah, untuk orang-orang yang bukan pendukung calon B, juga bakal memilih channel yang tidak membahas si calon B tadi, dan cenderung cari tontonan yang kontra dengan calon B itu sendiri. Yup, sekompleks itu memang. Tapi yang paling disayangkan adalah, kecintaan seseorang terhadap pilihan politiknya juga berpengaruh ke kebiasaannya untuk nyebarin hoaks yang menguntungkan untuk calon yang didukung. You can look up on TikTok dan lihat gimana orang-orang dan pilihan politiknya bisa sangat brutal dalam berkomentar.

Secara pribadi, aku punya pengalaman ngelihat langsung akun sosmed temen kuliah yang komentar buruk tentang agamaku. Iyes, pengin kali rasanya langsung negur dan memaki. Tapi tentunya, memaki itu sangat bertolak belakang dengan sifatku yang lemah lembut ini.
Jadi aku memutuskan untuk mendiamkan saja. Selain berkomentar rasis, dia juga doyan ngeshare berita entah dari akun berita mana yang memang memancing komentar. Sayangnya, berita yang dishare itu hoaks. Si kawan ini juga doyan komentar di luar konteks berita yang ada. Hingga suatu hari, lagi-lagi aku lihat komentarnya nongol di explore Instagram, don’t know how. Akhirnya, aku balas komentarnya dengan kalimat pamungkas orang nyari damai jalur ayat Allah, untukmu agamamu, untukku agamaku.

Apakah aku puas karena udah bales komentarnya? Tentu tidak. Aku justru ngerasa bego karena udah kepancing komentar enggak penting itu. Hal yang lebih mengesalkan lagi adalah orangnya tetap dengan kelakuannya yang komentar rasis dan share berita yang bahkan enggak bisa dibuktikan kebenarannya.

Netizen monyet yang doyan klik, share dan komentar tanpa verifikasi ini memang bikin emosi untuk kita yang masih ambil pusing sama kelakuan orang lain. Itu sebabnya, ada baiknya kita bersikap cuek dan pilih-pilih dalam menanggapi share berita dari orang lain. Karena, belum tentu si clicking monkey ini bakal peduli sama apa yang kita pikirkan, malah kitanya yang capek sendiri.

Atau malah… selama ini, kita sendiri yang clicking monkey?

6 Comments Add yours

  1. avatar Iyah Iyah berkata:

    Syukurlah bukan bagian dari julukan ini. Cuma julukannya kasar sekali ya kak. Soalnya terkadang yang menunjukkan perilaku ini adalah orang-orang yang sudah sepuh. Melihat dunia internet sebagai hal canggih dan sebuah kemajuan sehingga mudah sekali kena clickbait 😦

    Suka

    1. avatar danaanjani danaanjani berkata:

      Iya Iyah, pertama kali baca istilahnya aku pun agak shock juga, oh ada yaaa yang kayak gini. Padahal kan banyak yang kelakuannya begitu karena enggak tau juga. Nah inilah perlu jurnal jurnal lain buat tau lebih lengkap yaa

      Suka

  2. avatar Dewi Dewi berkata:

    wah, semoga kita jauh dr kebiasaan buruk ini. So far saya cek dulu info sebelum share. Klo dh yakin kira2 isinya soal apa, baru di share. Tp byk sih yg latah trus jd clikbait. Jd mending gk ush share klo gk liat/tau isinya

    Suka

    1. avatar danaanjani danaanjani berkata:

      Alhamdulillah kak, cek ricek itu wajib ya kan untuk kita yang doyan berdigital ini

      Suka

  3. avatar Pertiwi Soraya Pertiwi Soraya berkata:

    Sebenarnya kelakuan ‘asal share tanpa verifikasi benar gaknya judul-judul yang wow” ini bukan tren manusia zaman now aja sih, dari dulu-dulu manusia memang begitu. Bedanya dulu alat sharenya itu mulut ke mulut, kini teknologi makin canggih, tinggal modal jempol n internet aja. Makanya efeknya jauh lebih wow ya kan. Manya sejak dahulu kala kan tetap aja banyak rumor dan hoaks betebaran di mana-mana. Mindset manusia kebanyakan ya dari dulu sama aja ya kan.

    Suka

    1. avatar danaanjani danaanjani berkata:

      Iya kak, dulu alatnya cuma mulut, lahirnya dia desas desus kaaan. Sekarang dikasih kemudahan pakai teknologi, kelakuannya masih sama, jadi dehhh

      Suka

Tinggalkan Balasan ke danaanjani Batalkan balasan