Berbekam, Sebuah Review Dari Remaja Akhir

Kalian pernah bekam, enggak? Gimana rasanya? Seru? Walaupun dikenal sebagai pengobatan tradisional atau alternatif, aku selalu menyarankan ke kawan-kawan yang ngeluh pegal dan capek untuk dibekam. Karena menurutku, pengobatan ini punya banyak manfaat.

Menurut Wikipedia, bekam adalah adalah penyedotan lokal darah dari sayatan kulit kecil. Bekam merupakan metode pengobatan dengan cara mengeluarkan darah statis (kental) yang mengandung toksin dari dalam tubuh manusia. Berbekam dengan cara melakukan pemvakuman di kulit dan pengeluaran darah darinya. Pengertian ini mencakup dua mekanisme pokok dari bekam, yaitu proses pemvakuman kulit kemudian dilanjutkan dengan pengeluaran darah dari kulit yang telah divakum sebelumnya. Jadi kalau belum pernah bekam, pasti ada sensasi unik tersendiri waktu pertama kali nyobain.

Kalau diingat-ingat lagi, pertama kali aku mencoba bekam sekitar tahun 2016-2017. Waktu itu aku masih ngekos di daerah Serdang, Jalan HM. Yamin Medan. Beberapa kali aku udah lihat ruko klinik bekam ini karena letaknya pas di depan warung bakso langgananku. Warnanya hijau cerah dengan kalimat-kalimat menggunggah seperti bekam rasa cinta, rukyah anti galau, yang menurutku cukup menarik.

Ini cup yang dipakai untuk bekam aku kemarin, aku foto pas baru dicuci dan mau dikeringkan.

Setelah berpikir cukup lama, aku akhirnya nyobain terapi ini, yang rasanya cukup sulit diungkapkan di awal-awal. Ada rasa sakit, geli, dan pegal setelah nyobain, tapi setelahnya, aku ngerasa capek dan beberapa bagian badan yang terasa linu jadi lebih mendingan. Akhirnya, aku pun mulai rutin berbekam dan mulai stuck waktu udah enggak ngekos lagi dan tinggal di rumah.

Sebagai seorang remaja akhir yang akhir-akhir ini gampang capek dan terasa rapuh, ditambah dengan kebiasaan konsumsi yang enggak bisa dibanggakan, harus kuakui ada perubahan-perubahan tidak menyenangkan di badan. Misalnya gampang capek, sendi-sendi terasa kaku dan pegal, dan yang paling kentara adalah aku rutin minum obat sakit kepala. Kebiasaan yang buruk memang, karena aku ngerasa sakit kepala adalah penyakit yang bikin enggak bisa ngapa-ngapainnya, endingnya, aku selalu stok obat sakit kepala di tasku.

Tahun 2021, aku mulai mencoba berbekam lagi setelah vakum sekian lama. Aku juga mulai berani untuk bekam kepala (waktu itu masih harus dicukur), karena sakit kepalaku mulai enggak normal dan aku capek minum obat dan ogah ke dokter. Pertama kali bekam kepala memang cukup lawak menurutku, karena ada bagian botak di kepalaku yang selalu pengen kuelus karena rasanya geli. Setelah bekam di area kepala, entah karena sugesti atau memang sebermanfaat itu, sakit kepalaku mulai jarang muncul, which is nice. Aku pun mulai rutin bekam di kepala dengan interval beberapa bulan sekali, karena aku enggak tahan sama bekas cukur di kepalaku, dan jarak yang cukup jauh dari rumah ke medan.

Masa-masa kuliah di Medan beberapa bulan belakangan ini bikin aku mulai merutinkan kebiasaan terapi ini lagi, kali ini dengan mencoba bawa mamak untuk ikut. Setelah bolak balik diajak dan diimingi kalau jarak klinik ke rumah enggak terlalu jauh, baru mamak mau. Anyway, klinik yang di deket kosku dulu buka cabang di Jalan Gatot Subroto, jadi memang lumayan deket, keluar exit toll Helvetia, belok-belok dikit, nyampe deh. Plus, sekarang bekam kepala ada alatnya sendiri yang enggak mengharuskan cukur ramput, Alhamdulillah ga ada pitak ya.

Dikasih air jahe hangat setelah bekam, sebelumnya si mbaknya nanya dulu kita mau minum air jahe atau enggak, plus lagi begah atau enggak, soalnya di dalam minumannya ada madu hitamnya gitu.

Udah dua kali mamak mau ikut bekam, katanya, badannya terasa lebih ringan dan pegal-pegal di badannya lumayan berkurang. Mamakku masih ngajar, dan bawa motor untuk ke sekolahnya, jadi beliau tuh sering ngeluh kalau belikat dan pinggangnya pegal. Mamak juga bukan orang yang mau ke dokter, jadi beliau lebih milih tidur atau minum obat kalau terasa sakit, dan tempel koyo. Kata mamak sih, dibekam itu enak dan beliau suka sama terapisnya yang masih muda-muda dan pas kalau mijitin badannya, plus pada sopan-sopan. Iyes, emakku menilai attitude diatas segalanya sih. Oiyaaa, sebelum dibekam, kita dicek tensi dulu ya, soalnya kalau tensinya tinggi, enggak disarankan untuk berbekam.

Well, sebagai orang yang ngerasain manfaat dari berbekam ini, aku juga happy karena mamak bisa dapetin manfaatnya juga.

Kalian gimana? berminat mencoba?

21 Comments Add yours

  1. avatar Hari De Hari De berkata:

    Pernah nyoba sekali bekam di Medan johor, lupa apa namanya di Jalan Karya Kasih. Memang seenak itu sih setelah bekam, apalagi sambil refleksi kaki. Bakalan nyoba lagi sih nanti.

    Suka

  2. avatar Suci Suci berkata:

    Sama sekali belum pernah bekam. Aku paling parno kalo liat darah dan samaa aku juga paling ngga mau ke dokter kalo ngga udah parah. Lah jadi gimana? hahaa

    Btw, sakit pake banget gitu gak kak, dibekam? Trus spil2 harganya gitu tipis2 hehee

    Suka

  3. avatar Pertiwi Soraya Pertiwi Soraya berkata:

    Pernah bekam basah sekali, tapi enggak tuntas karena hampir pingsan. Jadi waktu itu sikonnya awak yang memang tekanan darahnya selalu rendah (makanya gak pernah bisa ikut donor darah) setela menimbang satu dan lain hal akhirnya memutuskan utk bekam juga bareng kawan2 sekosan. Gak sedang menstruasi padahal. Tapi ya gitu, pas lingkaran ke 3 atau 4, terasalah itu darahnya kayak meninggalkan ujung jari hingga ke kepala. Berkunang2 nyaris pingsan. Gak tahan sih kayaknya badannya di bekam basah 😅. Sampai sekarang gak pernah nyoba lagi.

    Suka

  4. avatar gunawandtruzz gunawandtruzz berkata:

    Aku pengen bekam tapi masih takut hehe padahal ada sodara yang praktisi bekam, tapi tetep aja takut

    Suka

  5. avatar Dewi Dewi berkata:

    untuk yang punya tensi rendah bisa gk kak bekam? Nge liat org2 yg bekam kyk nya enak gtu, tp awak gk berani krna tensi rendah

    Suka

  6. avatar Edi Edi berkata:

    Aku baru sekali nyobain bekam di daerah setiabudi atas saran kawan kantor. Selesai bekam kerasa enteng, tapi besok hingga seminggu kemudian bekasnya perih setiap kali kena air huhuhuu
    One day pen cobain lagi sih, karena mungkin yg kemarin kurang cocok aja hehe

    Suka

  7. avatar Ika Lubis Ika Lubis berkata:

    belum pernah coba samsek. Kek ngerj aja mau bekam kak

    Suka

  8. avatar Siti Rogayah Siti Rogayah berkata:

    aku lihat orang bekam dibelakang badan aja ngilu gitu kak. Apalagi ada bekam di kepala kak. Ya allah gak tw lah itu rasanya gimana kak. Tapi memang aku gak pernah bekam kak. Malah kasihan lihat badan digituin kak padahal itu pengobatan tradisional kan. Btw, itu biaya bekamnya berapa kak? Boleh dong di sipil kak

    Suka

  9. avatar Fitri Amaliyah Batubara Fitri Amaliyah Batubara berkata:

    belum pernah di bekam dan udh pengin dr lama. Baca ini jd termotivasi 😁

    Suka

  10. avatar Dila Dila berkata:

    Jadi kalau belum pernah bekam, pasti ada sensasi unik tersendiri waktu pertama kali nyobain” ini kira kira seunik apa ya kak? pengen nyobain, tapi takut sakit dan takut bekasnya jelek

    Suka

  11. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    Kak kkayaknya aku mau bekam juga deh selama ini cuma treatment massage doang sama totok

    Suka

  12. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    Badan sering pegal, eh, nemu artikel begini. Apakah ini saatnya aku untuk bekam? 😭

    Suka

  13. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    pernah bekam beberapa kali, ibu dan suami yang lebih sering, rutin. Aku ngerasa ‘efek enteng’ nya itu lebih lama dari pijat walau pas pertama kali nyoba rada takut. Kami biasa bekam di jl karya wisata dekat eka warni, tempatnya nyaman, sebelum bekam dicek tekanan darah dan ditanya keluhannya dan sama di akhir juga dikasih wedang jahe.

    Suka

  14. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    wah awak belum pernah nyoba bekam sih kak, walau ayah dirumah punya alatnya tapu awak belum tertarik buat nyoba. Baca cerita kakak, kayak bisa nih kapan waktu awak tes gunakan bekam yg ada di rumah.

    Suka

  15. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    Setelah baca review-nya, jadi lebih paham tentang proses berbekam dan manfaatnya. Badanku belakangan ini pegel-pegel, jadi pengen bekam tapi masih belum berani hehe.

    Suka

  16. avatar Tri Ayu Tri Ayu berkata:

    Setelah baca review ini, jadi lebih paham tentang proses berbekam dan manfaatnya. Badan udah pegel-pegel, pengen ikutan bekam juga tapi masih takut hehe.

    Suka

  17. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    Kalau aku sendiri pertama kenal bekam itu dari suami. Soalnya dia udah lama hidup sendirian, jadi punya berbagai alat pijat termasuk bekam ini. Katanya biar kalo capek-capek pulang kerja bisa ringan badan dibekam. Pas aku cobain, memang seenak itu. Tapi aku masih coba bekam biasa pake alat yang difoto kakak ini, ga mau dan ga berani pake jarum suntik atau yang disilet-silet sampai keluar darahnya gitu kak. Selain ngeri, takut jadi infeksi pula.

    Suka

  18. Aku pertama kali kenal bekam ini dari suami. Karena dia hidup sendirian, jadilah aku terkaget-kaget dengan bekam ini dan pas aku cobain ternyata enaaaak sekali. Tapi aku gak berani coba pakai jarum suntiknya atau yang disilet buat keluarin darahnya gitu kak. Takut infeksi atau lukanya ngeri.Ada juga temenku yang sukaa tiap bulan wajib dia dibekam, tak cuma punggung bahkan sampe ke muka dan kepala, sampe rambutnya kayak dibotakin di area bekam itu. Kalo itu aku skip sih, ngeri soalnya, hehe

    Suka

  19. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    AKu juga pernah bekam dikepala bagian ubun-ubun karena sering pusing dulu waktu kuliah. Jadinya botak tengah lucu banget. Tapi karena pakai hijab gak terlihat.

    Suka

  20. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    Dari dulu aku pun pengen kali bekam. Tapi kok ada rasa takut ya. Sama, aku pun sampe stok obat sakit kepala di kantor, rumah dan tas. Trus badan pun gampang kali capek. Jadi pengen cobalah biar badan lebih ringan

    Suka

  21. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    Wathasiwa Kyo Desu

    belum berani bekam, waktu ke tempat bekam bareng kawan dia yang bekam aku yang oyong, jadi nyoba pijat refleksinya aja

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Pertiwi Soraya Batalkan balasan