K-Pop, Bukan Lagi Guilty Pleasure

Awalnya, menyukai drama Korea menjadi hal yang aneh bagiku. I mean, ceritanya enggak jauh beda dengan sinetron Indonesia. Hanya saja aktornya lebih tampan, dan settingnya jauh lebih imajinatif. Tapi bagiku, yang menyukai K-Ppop sejak tiga tahun belakangan, maraknya budaya Korea Selatan ke penjuru dunia agaknya memang hal yang lumrah. Tayangan yang menarik, musik yang easy listening, dan, public figure yang rupawan adalah sebuah paket kombo bagaimana sebuah budaya dapat diterima sekarang ini.

 

K-Pop atau Korean Pop merupakan sebutan untuk jenis musik pop yang berasal dari Korea Selatan. Seperti halnya musik kebanyakan, musik K-pop pun punya pecintanya tersendiri yang sering disebut dengan K-Popers.

Kalau diingat, aku dulu bahkan sering kesal kalau ada kawan yang terus-terusan bahas soal Korean Wave. Gimana kebudayaan Korea bisa masuk dan dengan mudah diterima di kalangan anak muda waktu itu. Dari teman-teman kuliahku juga aku tau beberapa boyband Korea yang waktu itu tengah digandrungi. Nelly yang sering bahas soal SuJu, memang penggemar Super Junior sejati, atau lebih dikenal dengan sebutan ELF (Everlasting Friend).

YmCMPGc.jpg

Sementara Dwi, kawanku satu lagi, sukanya Shinee dan 2PM. Apa aku tau bedanya? Oh tentu tidak. Waktu itu, boyband Korea terlihat sama semua mukanya di mataku. Kulit putih, wajah tampan luar biasa, pakai make up kayak cewek, dan atletis. Iya, waktu itu. Sebelum aku mulai dicekoki drama-drama Korea.

shinee-radio-star.jpg

Drama Korea pertama yang membuatku mulai mempertimbangkan eksistensi Korean Wave adalah Full House. Iya, Drama yang dibintangi Song Hye Kyo dan Jung Ji-Hoon (Rain) ini memang cukup menghibur.

full house.jpg
Full House, episode pertama tayang pada 2004

Sejak itu, aku pun mulai menonton beberapa drama lainnya, dan merambah hingga Variety Show. Mai, teman sekamarku selama beberapa tahun. adalah salah satu K-Popers paling “mengerikan” yang pernah kutemui. Dia tau tiap drama, lagu hits, hingga gosip dan skandal public figure terbaru Korea Selatan. Dari dia juga aku mulai tau K-Pop juga punya Idol atau Teen Idol baru yang bermunculan menambah kian ramai belantika musik mereka. Dan anehnya, aku makin suka.

Musik-musik yang enak didengar itu dulu adalah hal yang mengganggu telingaku, tapi anehnya semakin lama didengar, aku justru hafal melodinya. Menakutkan, bukan? Saat kau mulai menyukai apa yang dulu sempat kau benci.

Aku mulai nonton Running Man, Knowing Brother, The Return of Superman, yang sebenarnya masih tergolong baru dibandingkan variety show lainnya yang sudah lumayan lama diproduksi. Bermunculan pula drama-drama yang makin membuatku sibuk mau nonton yang mana duluan. Cerita yang penuh intrik dan drama ini sebenarnya mirip dengan sinetron di Indonesia, namun dibungkus dengan lebih apik. Aku bahkan menonton Extreme Job ke bioskop sendirian saat film itu rilis. Film itu pun menempati posisi tersendiri, terutama dari sisi komedinya yang sukses bikin aku menikmati tiap hal dari film ini.

dyagnjdvyaihksn-00a6ac0724176ea1f70083a5572ca706_600x400.jpg

Film Korea terbaru yang kunikmati adalah Parasite. Film satir besutan Bong Joon-ho ini sukses bikin aku terperangah dengan alur cerita yang gelap dan kontradiktif. Film-film bagus ini pun menambah daftar film-film Korea yang kusukai.

maxresdefault.jpg

Jika bicara soal musik, aku justru mulai menyukai lagu-lagu K-Pop justru dari Kim Jong Kook dan Kang Garry yang keduanya ada di variety show Running Man. Dari mereka, lalu merambah pada musik-musik lainnya. Hingga aku benar-benar tak pernah bosan dengan musik dari BTS. Bangtan Sonyeondan atau Bangtan Boys atau BTS bisa jadi satu-satunya grup musik yang membuatku tidak malu mengaku sebagai K-Popers. Aku tau grup ini pun sejak menonton episode Runnging Man yang ke-300 dimana mereka jadi salah satu bintang tamunya.

Sebagai orang yang suka menelisik sejarah sesuatu, aku pun melakukan hal yang sama pada grup favoritku ini. Semua kisah bagaimana mereka terbentuk, asal musik mereka, asal tiap personil, hingga liri-lirik lagu mereka pun kucari sedemikian rupa.

Self Love, itu lah tema utama dari lagu-lagu yang mereka ciptakan. Sebut saja Love My Self, 21st Century Girl, Spine Breaker, Dope, Chyper pt.4, dan tentunya kesukaanku, Mic Drop. Musik-musik mereka mengajak siapapun yang mendengarnya untuk bisa lebih mencintai diri sendiri, mengejar mimpi, dan jangan pernah lelah dan menyerah bahkan ketika banyak orang yang memandang remeh.

Dalem, kan?

Lagu-lagu BTS ini pula yang kudengar saat aku tak bisa bangun karena terlalu banyak menangis, sementara solat sedang tidak boleh. Musik mereka, liriknya yang dalam, dan visual mereka yang mencerahkan, nyatanya cukup membuatku waktu itu kembali tertawa dan menertawakan kebodohan diri sendiri. Ajaib, kan?

Sekarang tiap ada orang yang nyinyir soal K-Pop, dan bilang kalau K-Pop baru terkenal sekarang, ingin kuperdengarkan lagu ini tepat di depan telinganya.

Coba, pas pertama kali dengar lagu ini, kamu umur berapa?

 

Pada akhirnya, kita tidak pernah bisa benar-benar membenci sesuatu, kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s