Kopi Tanpa Banyak Tanya

Apa pertanyaan yang paling sering kamu terima tiap memesan kopi?

Aku?

“Suka kopi yang espresso base, atau non coffee?”

Ini pertanyaan yang kerap aku terima tiap mendatangi kedai kopi yang baru pertama kali kukunjungi. Mengunjungi beberapa kedai kopi pun jadi hal yang paling aku gemari. Bukan apa, rasanya asik aja bisa duduk tenang, minum kopi, dan sibuk dengan gawai sendiri. Beberapa kali aku minum kopi, sendiri. Seringnya untuk laptopan, bisa sambil blogging atau sekadar berselancar sampai lupa waktu.

Walaupun keliling kedai kopi adalah hal yang menyenangkan, aku kerap mengunjungi kembali beberapa tempat yang sudah pernah kudatangi. Karena suasananya, kopinya, dan entah kenapa aku yakin, aku tidak akan bertemu dengan siapapun yang kukenal yang secara moral ketimuran, harus saling sapa. Entahlah, rasanya kadang lebih asik jika harus menyendiri. Kau bagaimana? Pernah begitu?

Dulu, waktu masih bekerja di salah satu resto kopi, aku sering melakukan observasi tingkah laku customer yang datang. Jika dia minum ini, biasanya begini. Jika dia makan ini dengan minum ini, biasanya orangnya begini. Semua berbeda-beda, dan cukup menyenangkan. Awalnya.

Gak jarang aku mendapati customer yang komplen kenapa kopinya tidak pakai gula. Atau kenapa kopinya terlalu pahit (padahal yang dipesan adalah black coffee robusta). Beberapa komplen “aneh” yang masih bisa diatasi. Terang saja, tiap orang punya ekspektasinya masing-masing untuk kopi yang diminum. Untuk kopi susu sendiri saja, beberapa orang punya taste masing-masing. Ada yang mau susunya langsung dicampur, dipisah, volumenya tidak banyak, hingga customer yang mau lebih berasa susu daripada kopinya, dengan alasan tidak terbiasa minum kopi.

Sementara itu, enggak jarang ada customer yang menyerahkan ke barista untuk kopi yang diminum. “Apa kopi yang enak?” “Rekomendasinya apa?” atau, “Saya enggak terlalu suka minum kopi, tapi sekarang saya pengin minum kopi, buatkan yang enak ya,” Untuk kasus seperti ini, selama aku bekerja disana, aku sering memberlakukan sesuatu yang kusebut dengan visual judging. Atau dengan kata lain menilai dari fisik. Untuk cara satu ini, untungnya, aku belum pernah meleset. “Penilaian” ini sebenarnya ditentukan dengan pertanyaan ampuh dan berlaku untuk siapa saja. “Mbak lebih suka kopi yang bagaimana? asam, pahit, atau dengan susu?” Percayalah, pertanyaan sederhana ini bisa membantumu menentukan kopi apa yang sesuai untuk customermu. Kecuali, kau bukan orang yang peduli pada kemauan pelanggan.

IMG_20161204_205442.jpg

Aku sendiri punya pertanyaan paling wajib yang kuajukan jika tempat itu baru pertama kali kudatangi. “Apa signature kopi kalian?”. Biasanya pertanyaan ini langsung dijawab dengan salah satu minuman di buku menu. Disertai dengan penjelasan ini itu soal kopinya. Aku suka barista yang suka menjelaskan ini itu soal minuman yang kupesan. Selain menjalin relasi dengan pelanggan, menurutku itu adalah salah satu cara si karyawan mendekatkan customer dengan produk mereka, selain itu, ini adalah bentuk ramah tamah yang bisa bikin orang balik lagi.

Tapi satu sisi, aku agak terganggu dengan pertanyaan orang yang “expert” di bidang kopi jika ditanya hingga seluk beluknya. Pernah minum kopi di satu coffee shop, lalu kamu bingung mau pesan apa, dan nanya ke baristanya kopi yang mereka rekomendasikan, lalu mereka malah nanya balik, “Kakak sukanya biji kopi yang dark roast atau light roast? Kita ada dua-duanya, ada yang semi washed dan wet washed juga,”. Aku pernah, dan entah kenapa aku sedikit terganggu dengan pertanyaan itu.

I mean, I don’t really care itu biji kopi mau dark atau light roast, atau semi washed atau enggak, atau bahkan dia mau ditanam di ketinggian 1200mdpl sekalipun. Like, really? I ask what your recommendation, how about just simply answer it?

Yaaa, pada akhirnya enggak semua customer mau tau seluk beluk kopi dari hulu hingga ke hilir. Bisa jadi si customer cuma mau minum kopi tanpa ditanya banyak-banyak. Bisa jadi si customer juga enggak paham sebanyak itu soal kopi, karena dia suka minum kopi karena dia memang suka, bukan meneliti sejarahnya. Simple kan?

Tapi aku tetap kembali ke coffee shop itu. Simply because they serve good coffee, yang selalu enggak aku foto karena biasanya duduk disana bareng kawan yang doyan cerita. Sangking serunya, aku lupa posting apapun di media sosial.

Mungkin kopi memang sesederhana itu. Bukan untuk dijadikan imej, bukan untuk dijadikan koleksi di galeri agar orang-orang tau kau pecinta kopi yang sering galau. Bisa jadi kopi seanggun itu untuk dinikmati sendiri, berdua, bertiga, dengan penuh cerita, tanpa banyak tanya tentangnya, sebelum atau sesudah tegukannya habis.

DSC_0097.JPG
Kopi Toraja diseduh manual ini jadi kopi pertama di minggu ini yang kuminum. Brewer Coffee Roastery adalah salah satu coffee shop yang akan kudatangi karena selain kopinya yang nikmat, suasananya juga enak untuk ketik-ketik laptop. Dan baristanya enggak banyak tanya tapi sangat ramah. 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s