Aku Galau, dan Itu Normal

Pernah kamu merasa tidak tentu, entah itu pikiran, perasaan, atau bahkan, kamu pun enggak ngerti sama apa yang terjadi dalam dirimu?

Mau melakukan ini, tapi rasanya tidak pas. Ingin melakukan itu, tapi muncul ragu yang entah darimana datangnya. Ditanya ada apa, kau sendiri pun tidak tau jawabnya. Lalu perasaan demikian, kau sebut apa?

Bagiku, keadaan demikian biasa kusebut dengan galau. Iya, galau. G A L A U. Satu kata umum yang paling sering dikaitkan dengan kondisi hati.
Jatuh cinta, galau.
Gebetan enggak bales perasaan, galau.
Baru putus, galau.
Ditinggal nikah, galau.
Galau sering kali diindikasikan sebagai keadaan hati yang tentu, seperti perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Menurut KBBI daring, Galau memiliki pengertian seperti berikut: galau/ga·lau/ a, bergalau/ber·ga·lau/ a sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran);

kegalauan/ke·ga·lau·an/ n sifat (keadaan hal) galau

Nah, kamu sendiri, pernah kah merasa galau?

Aku?

Dulu, sering. Sekarang, sudah tidak sesering dulu. Tapi kadang masih suka muncul saja rasa galau, terutama saat ingin mengambil keputusan.

Lalu, apa sih yang biasanya kamu lakukan untuk bisa ngadepin, atau bahkan menghilangkan galau di jiwa?

Aku pribadi selalu punya cara untuk bisa ngatasin kegalauan. Tapi balik lagi, tergantung dari apa penyebabnya.

Untuk galau karena bingung dalam mengambil keputusan yang berkaitan sama masa depan, misalnya pendidikan, kursus, atau pekerjaan, orang pertama yang kutanya adalah Bapak. Nanya ke Bapak karena biasanya beliau punya insight yang berbeda, terutama dari kacamata kepala keluarga. Setelah nanya Bapak, baru nanya ke Kakak, lalu ke Mamak. Kakak biasanya selalu punya pendapat dari sisi saudara kandung yang tau adiknya ini bagaimana, dan apa-apa aja efek yang terjadi kalau keputusan itu diambil. Nah, Mamak memang selalu jadi yang terakhir ditanya, karena beliau selalu menyerahkan semuanya ke anaknya. Termasuk dalam keputusan kerja, dan pendidikan. Beliau tinggal meridhoi dan bilang iya atau tidak. Mamakku juga punya kebiasaan untuk minta anaknya nanya ke Bapaknya dulu. Jadi kalau udah nanya ke Bapak, dan dapat opininya, lalu disampaikan ke Mamak, biasanya ada satu kesimpulan yang didapat.

Kesimpulan itu pun sebenarnya enggak langsung dieksekusi. Aku sendiri dikasih kebebasan untuk memilih. Karena balik lagi, aku yang menjalani. Keluarga sebagai circle pertama hanya bertugas mengingatkan, menasehati, dan memberikan masukan yang diperlukan. Iya, keluargaku memang lumayan demokratis untuk beberapa hal, dan konservatif untuk hal lain.

Beda sebab, beda pula yang dimintai pendapat. Untuk soal hati, aku paling jarang ngomong ke keluarga. Entah kenapa, ada perasaan kurang nyaman kalau bahas soal galau gegara perasaan ke mereka. Untuk masalah ini biasanya kalau gak mau sok tau dan gegabah ambil keputusan, aku biasanya bertanya ke circle pergaulan. Tiap orang biasanya punya pendapat yang berbeda. Tapi, aku punya lingkaran pertemanan yang tau betul sifatku, biasanya mereka selalu punya pendapat yang mirip satu sama lain. Tinggal bagaimana caraku memutuskan.

Kawan-kawanku, seperti halnya keluargaku, mereka selalu menyerahkan akhirnya ke aku. Bagaimana keputusan yang akhirnya kuambil, walaupun jika akhirnya tidak sesuai dengan yang mereka sarankan, mereka jarang mencaci. Lebih tepatnya, mereka memilih untuk tidak berkomentar, karena menurut mereka, aku udah cukup dewasa dan tau bagaimana harus ambil sikap. Iya, I have my own life kata mereka.

Terus, apa merasa galau itu lebay?

ENGGAK.

Galau itu gak lebay, galau itu hal yang normal, wajar, dan manusiawi.

Galau bisa disebut lebay kalau kadarnya sudah dirasakan tiap saat, dan si manusianya menolak untuk mengambil tindakan pemulihan dari kegalauannya. Dibandingkan menyelesaikan, orang seperti ini biasanya lebih memilih untuk larut dalam kegalauan. Lebay? Iya. Kadang, taraf ini sudah sampai pada kategori mengganggu.

Pernah gak kamu ngadepin temen yang punya masalah, ngaku galau karena masalahnya, tapi ketika dikasih saran, justru enggak pernah ngelakuin saran itu, tapi malah tetep galau dan uring-uringan? Nah, tipe yang begitu itu sudah bisa disebut lebay. Iya, kejam sih kalau nyebut orang lebay, but that’s the fact, right?

Untuk kamu yang galau karena kondisi hatimu sedang tidak baik-baik saja, percayalah, selalu ada jalan keluar untuk tiap masalah.
Kamu bisa bertanya pada orang yang kau percaya, orang yang mengerti dirimu luar dalam, atau untuk beberapa kasus, bisa jadi yang kau butuhkan adalah bantuan dari seorang profesional. Tidak apa, kau bisa pergi ke psikolog atau psikiater jika kau merasa masalahmu telah membuatmu lebih kacau dari biasanya, dan kau tak mampu lagi bertahan sendirian. Galaumu ada penyelesaiannya, yang perlu kau lakukan adalah menemukannya.

Untuk kamu yang sedang menghadapi seseorang dengan kegalauan, bersabarlah. Terimakasih telah menjadi pendengar yang baik. Terimakasih telah ada dan menjadi seorang teman dari kesendirian. Meski bagimu itu hal yang biasa dan sederhana, percaya lah, bagi orang yang sedang galau, kehadiran seorang kawan adalah sesuatu yang sangat berharga.

Jadi, jika kamu merasa galau, tidak apa. Itu hal yang wajar. Itu adalah sebuah fase dalam hidup. Hadapi, dan nikmati.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s