Ngafe di Masa Pandemi dan Waswas Yang Mengganggu

Hola, Yeorobun!

Rasanya udah terlalu lama enggak ke cafe sambil ngeblog. Minum kopi, ngemil, ketik ini itu, browsing segala hal dari yang berfaedah sampe yang nirfaedah. Kangennya sama kegiatan receh ini seenggaknya ngebuktiin kalau ngafe bukan hal yang sereceh itu.

Sejak pulang ke rumah Februari lalu, aku pun lantas jadi jarang atau malah hampir gak pernah ke kafe untuk sekadar minum kopi atau laptop-an. Yup, there’s a lot of thing changed sejak pandemi menyerang. Walaupun kasus di Sumatera Utara enggak separah di Jawa, rasanya enggak tenang aja gitu kalau kelayapan yang jauh jauh dari rumah. Ada rasa waswas yang muncul seiring waktu. Takut entar berinteraksi sama orang yang aku gak tau, ni orang udah dari mana aja. Apakah dia OTG, atau malah carrier? Iya, rasa waswas ini emang udah berlebihan di beberapa titik. Malah ujungnya, perasaan jadi enggak tenang. Nah, perasaan yang berlebihan ini juga salah. Akhirnya malah imun menurun, ya gak sih?

Hari ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku ngopi di luar rumah. Di salah satu kedai kopi di Stabat, namanya Sini Aja! Yes, you read it right, nama cafe-nya Sini Aja! Mungkin saat pertama kali tempat ini dibuka, nama ini dipilih karena mudah diingat. “Ngopi di mana? Di Sini Aja!” Tagline yang bagus memang.

DSC_0852

Untuk ukuran kedai kopi, variasi kopi yang mereka sediakan memang relatif sedikit, tapi setidaknya mereka menyajikan kopi dengan seduhan manual. Cukup menuntaskan rindu, lah. Bagiku yang suka duduk di cafe, lokasi kedai kopi ini sebenarnya cukup ramai, tepat di pinggir jalan besar, dan tidak ada ruangan ber-ac. semuanya out door, dan bisa dengan mudah terdistraksi dengan kendaraan yang lewat. Tapi kopi mereka cukup nikmat, jadi semua bisa dimaklumi.

DSC_0847
Simalungun Bean Full Washed, diseduh dengan V60. 

Anyway, bicara soal pandemi, kegiatan pun jadi berubah. Aku yang biasa kerja dengan jam kantor, sejak dirumahkan, aktivitasku pun gak jauh dari rumah. Tidak ada pekerjaan yang ku-apply sejak pandemi. Entah kenapa, perasaan mengganggur lebih baik daripada terpapar korona rasanya selalu muncul tiap aku liat iklan lowongan kerja di internet. Syukurnya, tabunganku masih ada, dan tinggal bersama orangtua memberikan banyak efek selama tidak bekerja. Aku tidak perlu bingung soal makan setidaknya. Ini salah satu privilege yang kupunya, jika dibandingkan orang lain, dan ini lah yang harus kusyukuri.

Jika biasanya aku lebih sering duduk di depan laptop dan memikirkan cara-cara meningkatkan penjualan dan branding, di rumah aku lebih sering membaca buku, terutama yang berkenaan dengan Ilmu Komunikasi. Berasa kembali jadi mahasiswa memang. Tapi kegiatan ini cukup untuk mengisi waktu, ya, selain main-main Dodo tentunya.

Keluar rumah cuma kulakukan untuk belanja sayuran, keluar agak jauh hanya untuk beli persediaan ikan Dodo, atau belanja kebutuhan rumah di Indomaret yang jaraknya sekitar empat kilometer dari rumah. Pernah, hari Selasa beberapa minggu lalu, sebelum lebaran tepatnya, aku ke pasar(pekan) yang buka tiap hari Selasa. Pasar mingguan ini ramainya bukan kepalang, kaya enggak ada kejadian, orang-orang yang ada di situ pun bisa dihitung berapa banyak yang pakai masker. Pulang dari sana, badanku rasanya panas, berasa ada yang gak beres. Langsung cek ke bidan desa dekat rumah, ternyata baik-baik aja, suhu badan pun masih normal. Kemungkin karena waswas ada di tempat ramai, dan badan langsung ngerespon makanya jadi panas. Sejak itu, aku malas kalau harus ke tempat ramai, atau sekadar lewat. Ada perasaan enggak tenang yang bikin beneran enggak nyaman.

Sekarang rutinitas jadi sedikit lebih sehat. Pagi aku usahakan sepedaan sekitar kampung, enggak jauh sih, paling sekitar tiga kilometer, dan mencoba untuk konsisten bisa dilakukan tiap hari. Kelar sepedaan beberes rumah, dan cukup ngeluarin keringat. Konsumsi buah pun jadi hal yang harus, minimal, jeruk atau semangka selalu tersedia di rumah. Untukku dan bapak, multivitamin C selalu tersedia, terutama untuk bapak yang kegiatannya bisa pagi sampai malam. Aku? cuma minum vitamin C kalau sedang mood.

Pandemi ini memang kasih banyak perubahan ke banyak orang. Mulai dari pekerjaan sampai gaya hidup. Sekarang kemana-mana pasti bawa hand sanitizer dan pakai masker. Mulai sangat aware sama kesehatan dan jaga asupan makanan dan vitamin tambahan. Yaaa, semoga kebiasaan baiknya bisa tetap dipertahankan bahkan jika pandeminya udah selesai ya. Seenggaknya, itu yang kudoakan untuk diriku sendiri.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s