Menulis Itu Membosankan

“Apa menulis itu membosankan?” tanyaku pada diriku sendiri setelah menulis begitu banyak artikel. Lirih aku bergumam dalam hati, aku juga masih tak tau apa jawabnya.

Tidak ada hal yang membosankan selama itu bukan sesuatu yang repetitif, berulang. Percayalah. Bahkan mencintai pun akan jadi membosankan jika dilakukan dengan cara yang sama, berulang-ulang, tanpa variasi, tanpa tantangan.

Aktif menulis sejak 13 tahun lalu nyatanya masih menciptakan writing block hingga sekarang. Ya, jelas. Kalau idenya tidak ada, atau idenya sudah membosankan.

Aku cari-cari, mengulik segala sisi untuk mendobrak segala blokade agar menulis tetap menyenangkan.

Or should I consider? That I lose this spark?

Menulis yang dulu menyenangkan nyatanya kini jadi rutinitas yang aku sudah hafal melodinya. Ritmenya bahkan sudah menjadi template mulai A-Z. Lantas apa masih menarik? Aku ragu dengan jawabanku.

Saat aku kembali menulis di blog yang sudah hampir setahun kutinggalkan, Glimpse of Us berputar di tv wall ruang rapat. Dan tiba-tiba aku ingat alasanku menulis 13 tahun lalu, kamu.

Jadi, apa menulis itu membosankan? Aku rasa, semua tergantung dengan konten dan tujuannya. Atau, variasinya.

Guess I need a new spark now.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s